Pernah ada Indonesia

Suatu minggu pagi menjelang siang yang panasnya cukup terik, sorotan matahari tajam menusuk ke kulit. Sepertinya tak ada orang yang tak mengeluh di siang hari yang panas ini. Namun terik matahari terasa kecil dibandingkan dengan semangat anak-anak kelas lima SD Muda Gembira untuk berkarya wisata.

Itulah mereka, anak-anak kecil yang semangatnya tinggi. Semangat mereka berkobar-kobar. Tingkah laku mereka begitu polos. Senyum mereka ibarat mentari di pagi hari sementara tindakan mereka bagai oase yang dinanti-nanti di tengah gersangnya gurun.

Salah seorang anak SD itu berjalan. Anak perempuan berkepang dua itu terlihat begitu menonjol diantara teman-temannya. Kemudian ia menegur kawan-kawan sebayanya, “Hai semua, aku punya tas baru lho… liat deh, ini dibeliin papah di Paris. Kata mamah harganya mahaaaalll banget. Liat deh, lucu kaannn?”
“Liat-liat… mana?” salah seorang anak menimpali dengan pertanyaan.
“Wah iya lucu, beli di luar negeri ya? Pantes bagus. Impor sih barangnya…” Teman lainnya lagi menimpali.
“Iya, nggak kayak produk lokal, biasanya gampang rusak sih…” anak berkepang bernama Amel itu menyahut lagi.

Itulah kira-kira gambaran karakter orang Indonesia yang telah kita sendiri sadari dan masyarakat dunia lain ketahui. Perkataan yang dilontarkan Amel rasanya telah begitu akrab dengan telinga kita, bahkan seringkali kita ucapkan setiap kita menyadari kejelekan perilaku diri kita sendiri. Disadari atau tidak, perkataan seperti itu terkesan begitu meremehkan bangsa kita sendiri. Segala yang kita anggap buruk kemudian kita anggap itu sebagai ciri dari Indonesia. Misalnya ketika kita mendengar berita tentang kericuhan supporter bola atau kisah Amel yang membanggakan barang impornya dan merendahkan barang asal Indonesia. Hal itu terjadi lantaran telah begitu banyaknya permasalahan yang ada di negeri ini, mulai dari kasus korupsi, gizi buruk, pencurian aset budaya, serta kasus hukum yang saat ini sedang hangat dibicarakan. Sehingga seringkali kita menyimpulkan sesuatu kejadian buruk dengan melontarkan kalimat singkat, padat dan jelas, “Indonesia… Indonesia…” atau “Indonesia sih…!!!”.

Sikap demikian telah membudaya di sebagian besar masyarakat kita. Merasuk dalam pikiran orang tua-muda bahkan anak-anak. Di satu sisi budaya semacam ini memiliki nilai positif yaitu menghargai terhadap kelebihan orang lain Karena sudah menjadi kewajiban manusia untuk menghargai setiap karya orang lain. Tetapi selama ini budaya tersebut tidak diiringi dengan upaya untuk bangga terhadap bangsa kita terlebih dahulu, terlebih pada diri kita sendiri. Kita lebih sering terlena dalam kecanggihan budaya dan produk-produk asing, tetapi lalai untuk memajukan bangsa kita sendiri.

Bangsa ini ibarat orang kaya yang sukanya menghambur-hamburkan uang. Setiap hari uangnya ia gunakan untuk tidur di hotel. Ia bermewah-mewahan disana. Ia membeli barang dengan sesuka hati. Ia menghambur-hamburkan uang miliknya tanpa pernah berpikir untuk bersyukur atas warisan yang diterimanya. Sementara itu perusahaan miliknya ia pasrahkan begitu saja kepada orang lain, tanpa memperdulikannya. Ia terfokus pada gaya hidupnya yang seenaknya sendiri. Ia tak menyadari bagaimana orang lain yang tak seberuntung dirinya harus berjuang keras sekuat tenaga untuk mencapai kekayaan itu. Lama-kelamaan karena uang pribadinya mulai terkuras, orang kaya tersebut mulai menjual aset-aset perusahaan miliknya. Celakanya, orang yang selama ini ia percaya ternyata hanya menipunya semata. Akhirnya ia mengalami kebangkrutan. Bahkan ia berhutang pada orang lain yang dulunya miskin tetapi karena keuletannya sekarang ia telah menjadi pengusaha yang sukses. Orang kaya tersebut ingin kembali kaya seperti dulu, tetapi tekadnya tidak pernah bulat. Ia tak mampu mengembalikan kekayaannya seperti dulu. Ia hanya mampu menghasilkan uang yang sedikit, karena ia tidak memiliki keahlian. Padahal seharusnya dengan kekayaan yang dimilikinya ia mampu mempersiapkan diri dengan bekal yang lebih cukup dibanding orang lain. Seharusnya warisan tersebut ia jadikan modal untuk mengembangkan bisnis dan mendapat kekayaan yang lebih banyak lagi.

Itulah ilustrasi untuk menggambarkan keadaan bangsa ini. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya yang melimpah ruah. Indonesia punya Tembagapura yang kaya tambang emas, Indonesia punya pulau Buton yang kaya bauksit (bahan aspal), Indonesia punya puluhan bahkan ratusan gunung aktif yang menyuburkan tanah Indonesia menjadi surga padi, jangung, gula, dan lain-lainnya. Tetapi sayangnya bangsa ini tidak pernah bersyukur akan anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa itu. Kita membiarkannya tanpa mengolahnya untuk lebih berguna. Kita biarkan bangsa lain berkuasa disini dan mengambil kekayaan sumber daya alam yang kita punya. Celakanya kita dibodohi, kita hanya mendapat keuntungan yang lebih sedikit. Bahkan anak-anak kita ada yang tidak tahu betapa kayanya bangsa ini. Sementara anak-anak bangsa lain justru telah belajar kekayaan sumber daya alam milik bangsa kita secara lebih matang untuk mereka jadikan tujuan pangsa memperoleh bahan baku.

Ketidakpedulian kita terhadap kekayaan bangsa kita sendiri juga terjadi pada kekayaan budaya asli bangsa Indonesia. Hal itu mengakibatkan terjadinya klaim oleh negara lain pada kekayaan kebudayaan yang kita miliki seperti, Reog Ponorogo, Tari Pendet, lagu Terang Bulan, dan masih banyak lagi.

Apabila kita melihat lebih dalam lagi tentang kasus korupsi, pencurian aset budaya,dan sebagainya hal itu dapat terjadi salah satunya disebabkan oleh krisis moral. Orang-orang besar yang diharapkan mengkhianati rakyat yang telah memberinya kepercayaan. Saat ini belum ada keterikatan batin kita pada Indonesia. Ketika duduk di pemerintahan belum ada rasa untuk menguntungkan rakyat, melainkan masih menguntungkan diri sendiri. Belum ada rasa memiliki dan bangga pada budaya Indonesia seperti Reog Ponorogo atau Tari Pendet.
Realita yang ada tidak perlu kita sesali berlarut-larut. Masalah itulah yang justru memotivasi kita untuk lebih peduli pada budaya kita sendiri. Sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk belajar dan belajar lebih dalam lagi dari pengalaman yang telah lalu. Seperti kata pepatah, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Anak-anak kecil seperti Amel ibarat kertas putih yang putih bersih tanpa noda. Sekecil apapun goresan tinta yang tercoret disana menjadi bagian dari proses menuju kedewasaan.

Merekalah nantinya yang akan meneruskan jalannya roda kehidupan kapal besar bernama Indonesia di tengah goncangan badai samudera dunia. Kapal Indonesia yang ada saat ini adalah kapal yang masih mencari jati dirinya. Ia begitu mudah diporak-poradakan oleh galaunya gelombang samudera. Angin yang berhembus walau hanya kecil sekalipun bisa menggoyahkan tegaknya bumi pertiwi. Untuk itu harus dibangun fondasi yang lebih kuat lagi, dalam hal ini fondasi itu adalah anak-anak seperti Amel. Kertas putih itu harus kita warnai dengan hal-hal yang mendidik bagi mereka. Itulah esensi dari sebuah pendidikan yang saat ini harus kita laksanakan.

Pendidikan yang harus kita tanamkan itu adalah mengenai pendidikan karakter.. Lalu apa sebenarnya pendidikan karakter itu? Pendidikan karakter adalah suatu cara mendidik anak dimana dari sanalah anak-anak dapat mencari jati diri dan menempatkan posisi mereka sesuai dengan proporsi keadaan. Diharapkan dari pendidikan karakter itulah, anak-anak dapat menemukan, menggali, kemudian mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya untuk kemakmuran.

Hubungan perilaku anak dan pendidikan yang diterimanya ibarat sekeping mata uang. Keduanya saling berkaitan. Oleh karena itu perlu ada pembaharuan konsep pendidikan pada anak-anak kita, yaitu tentang cinta tanah air. Rasa cinta tanah air diawali dengan adanya rasa bangga untuk memiliki tanah airnya. Rasa bangga itu bukanlah sekedar mengagung-agungkan atau menggombal semata tetapi menekankan pada rasa bangga untuk memiliki, bangga menjadi bagian Indonesia seperti ajaran bung Karno tentang rasa cinta tanah air. Karena pada hakikatnya bangga terhadap diri sendiri akan menimbulkan kepercayaan diri untuk lebih berani bersikap dan beridealis. Demikian halnya dengan bangga terhadap Indonesia, akan menimbulkan kepercayaan diri sebagai seorang Indonesian akan idealis dan cita-cita negerinya.

Ada ungkapan pepatah, “Tak kenal maka tak sayang” ungkapan itu sangat cocok antara anak-anak kita dengan budaya Indonesia. Hubungan anak dengan budaya harus dijalin seperti dua insan yang merajut kasih. Pertama, mereka harus berkenalan terlebih dahulu, misalnya dengan membawa anak-anak ke museum batik atau mengikutkan mereka dalam sanggar tari. Setelah mengenal lebih dalam, rasa sayang dan memiliki pun akan muncul dalam diri si anak. Sebagai orang yang lebih dewasa, telah menjadi kewajiban bagi mereka untuk mengenalkannya pada anak-anak. Sehingga budaya kita seperti Reog Ponorogo dan tari Pendet tidak akan diadopsi oleh orang lain karena merasa disia-siakan di lingkungannya sendiri, sebab sang pemilik yang sesungguhnya telah merawat dengan penuh cinta kasih.

Sejak berada dalam asuhan ibu, mengenyam pendidikan taman kanak-kanak, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, hingga mati mereka harus memiliki ikatan yang dalam pada tanah airnya. Sehingga setelah adanya rasa kekeluargaan itu, muncul sebuah rasa tanggung jawab dalam diri mereka. Anak-anak kita harus merasa bahwa tanah air mereka adalah keluarga mereka dan darah mereka sehingga ketika mereka tumbuh besar mereka bergantian membalasnya dengan sebuah pengabdian pada Indonesia. Mereka yang menjadi penjabat, akan merasa terenyuh melihat penderitaan rakyatnya. Mereka akan mengabdi untuk negaranya, sehingga diharapkan tak ada lagi kasus korupsi yang menyebabkan rakyat menderita gizi buru k atau kelaparan. Sehingga kapal berbendera Merah Putih itu akan berlayar kokoh berani di tengah samudra sekalipun badai menggoncang. Tetapi bila tidak, Indonesia bisa saja menjadi sebuah legenda semata yang telah terkubur dalam samudra. Akankah kita mau menyesal di kemudian hari karena kehilangan warisan yang kita miliki? Atau anak cucu kita esok bercerita pada keturunan mereka bahwa dulu ada sebuah negara bernama Indonesia yang saat mereka hidup telah tiada?

Advertisements

2 thoughts on “Pernah ada Indonesia

  1. selalulah merasa bangsa ini besar, layaknya pemuda-pemudi Indonesia yang berhasil mengibarkan bendera merah-putih di kancah dunia.

    selalulah yakin bulan akan tetap terlihat dilangit negara Indonesia. Karena pasti negara ini tak semudah itu untuk hilang dari dunia

    pasti selalu ada Indonesia. karena ada kamu, aku, dia dan kita….bangsa Indonesia yang dulu saja berani mati menggunakan bambu runcing hanya untuk mengumandangkan bahwa ada negara yang bernama INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: