MEMBUKA TABIR CAKRAWALA WANITA DALAM DUNIA EMANSIPASI

tinggalkan dapurmu, terbangkan payungmu setinggi langit, terbang… terbangkan…

Wanita bagaikan kristal. Mereka adalah perhiasan bagi dunia. wanita bagai sekeping mata uang logam. Ia memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi wanita memiliki peranan untuk mengasuh dan bertanggung jawab pada keluarga namun di sisi lain wanita juga memiliki hak-hak untuk mengenyam pendidikan yang setara dengan pria. Perjuangan emansipasi wanita di Indonesia tidak dapat kita pisahkan dari sosok R.A. Kartini. Ia telah memperjuangkan hak kaum wanita untuk mengenyam pendidikan. Tetapi herannya hingga saat ini permasalahan kesetaraan gender masih saja menjadi isu yang hangat untuk diperbincangkan. Hal itu artinya kesetaraan gender belumlah tercapai. Sungguh hal ini begitu memprihatinkan, disaat goncangan arus globalisasi begitu kecang mendesak, bangsa Indonesia masih saja berkutat dengan permasalahan seperti kesetaraan gender ini.

Desa Banjarwati, Lamongan, Jawa Timur merupakan salah satu contoh daerah yang memiliki masalah dalam kesetaraan gender. Beberapa bulan lalu, penulis terkaget ketika mendengar kabar sepupu yang usianya sepantaran itu berencana melepas masa lajangnya. Dulu ia adalah teman bermain tapi, karena jarak kami sudah tidak dekat lagi. Setelah lama tidak mendengar kabarnya, tiba-tiba saja ia telah dikabarkan akan menikah. Padahal ketika itu, penulis yang masih duduk di bangku SMA kelas dua masih berkutat dengan ujian. Tentu saja hal ini bukanlah hal yang biasa untuk zaman sekarang. Rupanya hingga saat ini di daerah tersebut masih ada kaum wanita yang harus menikah karena adanya paksaan dari keluarga. Hal itu telah menjadi tradisi bahkan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun. Lebih tragisnya lagi, setelah melepas bangku sekolah menengah pertama dengan sendirinya anak-anak tersebut akan mengiyakan secara sukarela untuk dinikahkan. Masa-masa SMA, mereka isi dengan penjajakan lalu persiapan pernikahan.

Sungguh, realita diatas begitu menarik untuk diperbincangkan. Hal ini menjadi sebuah tanda tanya besar, manakala gadis remaja yang seharusnya masih menimba ilmu justru rela untuk dinikahkan. Tiada paksaan. Hal itu telah menjadi tradisi yang secara turun menurun di desa tersebut. Jangankan untuk menggapai cita-cita, motivasi untuk mengenyam pendidikan tinggi saja tidak ada dalam benak gadis-gadis muda yang akan dinikahkan itu. Apabila hal ini terus terjadi berarti masalah kesetaraan gender tidak akan pernah terselesaikan, sebab dari akarnya saja sudah goyah. Menegakkan kesetaraan gender tak ubahnya bagai menegakkan benang basah.

Masalah ini kian diperburuk akan paham partriarki yang dipegang teguh dalam tradisi masyarakat desa Banjarwati tersebut. Patriarki merupakan paham yang menganggap bahwa kaum laki-laki ialah penguasa dari semuanya dan ia berhak memimpin kaum perempuan, dimana para wanita dituntut untuk selalu menurut apa yang diinginkan oleh laki-laki. Dan parahnya perempuan tidak diperbolehkan mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari laki-laki. Paham ini merasuk dalam darah laki-laki yang ada di daerah tersebut, kemudian diturunkan kepada generasi laki-laki dibawahnya. Jadilah paham tersebut menjadi doktrin yang sulit untuk dipupuskan. Terus mengalir dalam darah kaum adam di desa Banjarwati tersebut.

Permasalahan kesetaraan gender secara tidak langsung akan menyeret permasalahan lainnya, seperti pembakuan peran, diskriminasi, dan marginalisasi. Pembakuan peran pada perempuan yaitu pandangan dan sikap laki-laki yang memandang perempuan hanya boleh untuk menangan urusan dapur. “Perempuan itu kasur, sumur, dapur dan laki-laki bebas untuk melakukan apapun”, Itulah pemikiran pendahulu dan sampai saat ini, masih banyak masyarakat bangsa ini menerapkan kata-kata itu. Diskriminasi yaitu memperlakukan seorang secara berbeda atas dasar alasan yang tidak relevan. dan marginalisasi yaitu ketertinggalan suatu kebudayaan yang hidup dalam suatu wilayah yang telah maju kebudayaannya
Penyelesaian ini tentu harus dipikirkan bersama. Penyelesaian ini tentu tidak akan jauh-jauh dari esensi sebuah pendidikan. Seperti halnya budaya ialah pendidikan. Maka untuk menyelesaikan permasalahan yang telah menjadi budaya ini juga harus melalui pendidikan. Dalam hal ini Pemerintah memegang peranan penting. Upaya yang dapat dilakukan misalnya dengan menerjunkan orang-orang yang berkompeten. Orang yang diterjunkan tersebut haruslah mempunyai sense of emotional yang kuat atau peka terhadap lingkungan. Misalnya dengan menerjunkan pemuda dan pemudi atau mahasiswa yang yang sedang KKN, dikhususkan bagi mahasiswa perempuan. Diharapkan dari orang-orang yang diterjunkan itu dapat memberikan perubahan. Dimana perubahan itu akan membuka cakrawala baru mengenai pentingnya pendidikan dimata mereka.

Pemuda-pemudi itu hendaknya bisa mengubah paradigma yang dimiliki kaum perempuan di sana. Dengan cara mensosialisaikan akan pentingnya kesetaraan gender, penyampaian sosialisasi tersebut tentulah tidak secara formal, melainkan secara informal. Sehingga diharapkan mereka bisa sharing secara terbuka, misalnya membentuk kelompok-kelompok yang di dalamnya beranggotakan pemuda-pemudi KKN dengan ibu-ibu muda disana. Perlu diketahui bahwa tidak adanya keinginan kaum gadis disana untuk melanjutkan pendidikan tinggi lantaran tidak adanya keinginan dalam diri mereka. Hal itu karena selama ini yang mereka lihat dari pendahulu mereka, gadis-gadis yang telah menamatkan bangku SMP langsung menikah. Mereka tidak mengetahui bahwa setelah bangku SMP itu ada jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu SMA hingga Perguruan Tinggi. Diharapkan juga dari hubungan secara langsung tersebut dapat menggugah motivasi para remaja putri disana untuk haus akan ilmu pendidikan karena mereka dapat melihat para mahasiswa putri yang dapat sekolah dengan tinggi dan sejajar dengan para laki-laki. Dengan adanya penyadaran itu diharapkan paling tidak ada satu remaja putri dari sana dapat mempelopori masyarakat disana bahwa kesetaraan gender sangat diperlukan di daerah itu untuk menuju masyarakat yang maju dan tidak berpikiran sempit.
Jika hal tersebut telah berhasil dicapai tentu akan tercipta sebuah emansipasi wanita seperti yang kita harapkan. Emansipasi wanita merupakan salah satu cara untuk mengurangi dampak permasalahan kesetaraan gender di masa sekarang. Emansipasi wanita dapat diartikan sebagai salah satu perjuangan agar kaum perempuan dapat memilih dan menentukan nasib sendiri. Memilih sesuai dengan kemauan pihak wanita untuk mengambil langkah ke depan, mendapatkan pendidikan setinggi kaum laki-laki dan mendapatkan pekerjaan, berkarya seperti halnya laki-laki, akan tetapi tentu tidak kemudian lalai akan kodratnya sebagai wanita yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan rumah tangga. Justru dengan pendidikan tinggi itulah wanita dapat menjadi tempat belajar pertama bagi anak-anak mereka. Demikian pula dengan menentukan nasib sendiri, dari kebebasan memilih kaum perempuan dapat mengeksplor kemampuan yang dimilikinya untuk menjadikan hidupnya menjadi lebih baik.

Emansipasi adalah kebebasan bagi perempuan tetapi bukan berarti bebas seutuhnya. Ada batasan yang mendasar untuk menjaga kehormatan kaum perempuan. Bila tidak demikan, dapat terjadi kelewatan penafsiran dalam mengartikan kebebasan. Sebagai contoh seperti banyaknya iklan televisi dan film yang berbau porno dan mesum yang mempergunakan model perempuan. Maka dari itu kebebasan dalam emansipasi harus dalam hal positif karena hal ini juga untuk memajukan bangsa Indonesia. Kebebasan dalam hal positif contohnya dalam hal pekerjaan, pendidikan, dan aspek kehidupan yang lain, wanita karir sebagai contoh dan jabatan yang lebih tinggi dari laki-laki.

Selain melalui pendekatan informal tersebut, diperlukan pula sebuah norma yang mendukung kesetaraan gender. Norma tersebut dapat diwujudkan dengan penegakan di bidang hukum. Seyogyanya pemerintah segera mengesahkan Undang-Undang Kesetaraan Gender agar kesetaraan gender di Indonesia dapat berjalan sebagaimana mestinya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.