Intropeksi dan Inspirasi Ramadhan

Astri is looking for who really she is:))

Saya sedang labil. harus saya akui, dan memang saya lebih suka untuk mengakui. saya merasa dengan mengakui kegelisahan dan segala yang berkecamuk di hati saya membuat hati saya merasa longgar dan tenang. Entahlah, akhir-akhir ini saya sering merasa sensitif. Saya ingin dituruti kemauan saya, saya ingin orang ada untuk saya. Itu memanglah wajar, acap kali saya mendengar keluhan yang sama dari teman-teman saya. Saat hari itu mereka sedang bete, marah, gelisah, kesal, jenuh, dan sebagainya. Jujur, saya merasa malu. Sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Saya malu pada Tuhan, Allah. Malu pada ibu saya, ayah, dan teman-teman saya. Saya malu untuk merengek-rengek dan meminta orang-orang menuruti kemauan saya. Saya banyak menuntut. Saya banyak mau. Sementara yang saya lakukan untuk mereka? nol.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Selama satu bulan penuh, sajian hiburan di televisi menyajikan acara-acara untuk menemani waktu puasa dan beribadah kita. Hampir setiap acara yang dibawakan, sang presenter wanitanya menggunakan kerudung meskipun tidak sesuai syar’iah yang benar. Berbagai iklanpun ramai-ramai menyajikan tayangan iklan yang berbau saur atau berbuka. Semuanya serba suasana islami. Demikian pula di lingkungan rumah saya. Disini tetangga-tetangga saya berjualan makanan buka puasa. Menjelang senja, likuk jalan depan rumah semakin sempit dengan kehadiran sepeda motor pelanggan yang diparkir di jalan. Begitulah suasana menjelang berbuka, ramai, riuh, namun kekeluargaan sekali. Hari berjalan indah, meski perut terasa lapar, dan dahaga kering kehausan. Tapi justru disaat itulah, negara ini baru terasa menjadi negara muslim terbesar karena di hari-hari biasa kita justru sering menemui krisis keimanan dengan paham sekulerisme yang semakin banyak masuk dalam segmen kehidupan kita.

Beberapa saat yang lalu saya pergi ke sebuah toko besar di Yogya, toko itu bisa dibilang sejenis mall, tetapi tidak begitu ramai. Berhubung ketika itu waktu ashar hampir habis, maka saya dan ibu mencari musholla yang ada untuk sembahyang. Rupanya di toko yang memiliki tepat parkit empat tingkat dengan pusat handhone itu hanya memiliki satu tempat sholat yang letaknya di samping pos satpam. Ruang musholla itu hanyalah seluas 2X3 meter. Seperti biasa, fasilitas rukuh dan sajadah yang disediakan di musholla umum pada umumnya yang bau dan hitam di bagian dagu sampai leher. Terbayang di benak saya, kapan terakhir kali petugas di toko itu mencuci mukenah yang mereka sediakan? Barangkali sudah 3 bulanan lebih.

Itu baru sekelumit cerita tentang perjuangan muslim untuk tetap bisa melaksanakan ibadah wajib di negerinya sendiri. Saya pernah mendapat cerita tetang salah seorang teman yang mendapat kesempatan pertukaran pelajar ke luar negeri. Selama setahun teman saya yang berjenis kelamin laki-laki itu berkelana di negeri orang, selama itu pula ia tidak pernah pergi sholat jumat. Ia beralasan, disana masjid sangatlah jauh. Dan untuk mencapainya sangatlah sulit untuk menggapai angkutan umum. Terlebih ia sendirian. Sama sekali tak ada inisiatif darinya untuk berjanjian dengan kawan laki-lakinya untuk sama-sama melaksanakan sholat yang wajib bagi tiap muslim itu. Ia melewatkan sholat jumat karena kondisi yang ada.

Bisa dibilang, kondisi seperti teman saya kesulitan melaksanakan kewajiban sholat di luar negeri sudah sering kita rasakan bila kita sedang ada di luar rumah, terlebih di mall. Seperti yang saya alami, seringkali keadaan masjid kotor, mukenah bau menjadi penyebabnya. Alangkah malu, bila di negeri kita yang mayoritas muslim ini, kita masih mengalami kendala untuk menjalankan ibadah sholat.

Bulan ramadhan yang indah ini harus senantiasa kita sikapi dengan suasana sukacita. Kita harus menikmati bulan ramadhan dengan meningkatkan amalan ibadah kita. semoga bulan ramadhan bisa menjadi inspirasi bagi saya dan anda untuk berubah. aamiin 🙂

Advertisements

One thought on “Intropeksi dan Inspirasi Ramadhan

  1. harusnya sih gt buln ramadan bs jd bulan pendidka bg kt agar mjd orng bertakwa, tp banyak fakto yg menjadi kendalanya. salah satu nya yang ukhti tulis dlm paragraf pertama……..he….he…..ternyata tidak ak sj yg merasakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: