Nafas Cahaya

Selamat malam.

Malam ini saya terbangun. Bukan terbangun dari tidur (lugas), tapi terbangun dari mimpi dalam konteks impian, cita-cita, atau harapan.

Saya letih, menggantung asa. Memupuk gunung di pelataran gunung es nan terjal, dingin. Banyak harapan yang saya gantung, terutama setelah saya bertemu seseorang yang membuat saya berani bermimpi lagi.

Teman saya ini adalah seorang idealis-realistis. Dia bangga sekali menargetkan mimpinya, dia ingin ke Paris sebelum dia lulus kuliah nanti. Nggak tau gimana caranya, dengan getol dia pasang target itu. Dia percaya dia bisa sampai sana suatu saat nanti.

Ada juga kawan saya, seorang anak dari pucuk gunung yang cukup istimewa karena kerja kerasnya, dia juga selalu pasang target. Tingkat satu kuliah harus begini, tingkat dua kuliah harus begitu. dan lain-lain. Mendengar cerita dan timeline hidupnya saja, saya sudah cukup lelah, otak saya juga ikut-ikutan memikirkan aksi nyata untuk sekumpulan mimpinya itu.

Ada lagi teman saya, dia cerdas bukan main. Segala mata pelajaran dia kuasai. Belakangan dia menulis buku pelajaran SMA (saat ini, alhamdulillah saya juga sedang melakoni hal yang sama), dia belajar semua yang ingin dia tahu. Belajar yang tidak main-main. Walau dia kuliah statistika, tanyakan saja bidang biologi, fisika, bahkan akuntansi dia mahir. Dia tidak pernah mematok apapun, tapi rezeki selalu mengikutinya.

Diam-diam saya merenung. Akhir-akhir ini saya memang selalu punya keinginan-keinginan yang tentu saja berbeda dari sebelum-sebelumnya. saya gantung mimpi itu. Tapi saya lepas dia, dan ibarat saya hanya kaitkan dia dengan tali yang membuat dia lebih lega.

Tapi saya sebtulnya tidak merencanakan suatu, untuk saat ini saya hanya dapat membayangkannya (karena belum masuk ke dunia kuliah, tempat mimpi itu berada). Dan entah, saya memposisikannya sama, ketika saya percaya bahwa Tuhan akan memberi jalan yang terbaik, bagi setiap keinginan manusia, walau dia bermimpi sedikit, Tuhan pasti memberi lebih, sebagai kado bagi umat yang mau mengingat dan mempercayainya.

Mimpi memang patut dikejar, tapi kita patut menyadari bahwa mengejar mimpi duniawi tidak akan pernah ada habisnya. Padahal dengan mengejar mimpi duniawi itu, seseorang akan sangat mudah tersesat, ia dikaburkan mana itu sinar mana itu bayangan. Ketika yang kita cari mimpi dunia, kita senantiasa terbayangi oleh sesuatu,

Bayangan, seperti dalam ilmu fisika, ia tidak akan pernah bisa kita lihat. Ia selalu ada di garis belakang kita. Oleh karennya, sebaiknya yang kita cari adalah cahaya. Karena sinar yang nyata hanya melalui cahaya. Cahaya itu adalah Tuhan, maka bayangan (dunia) dan kesuksesannya akan mengikuti.

~ Hanya terinspirasi ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: