Ayah, ayah, dan ayah…!

Malam ini saya tidak tahu harus mendifinisikan perasaan saya apa. usai sholat isya bersama ayah, saya merasa begitu damai. di akhir salam entah mengapa saya membayangkan sesuatu, dimana saya menangis dan menatap ayah yang tidak bernyawa lagi. disitu saya hanya mampu menagis, menderu, dan menjerit. saya tidak tahu mengapa saya tega membayangkan hal demikian. tapi itu bukan keinginan. ada terbesit pikiran saya merasa takut kehilangan ayah, takut kehilangan momentum sholat bersamanya. takut tidak sempat berfoto saat saya menikah kelak. saya takut. dan takut kehilangan ayah.

 

mungkin saya hanya dapat menyimpulkan semua bayangan itu adalah demi memotivasi saya. saya takut tidak bisa membahagiakan ayah, artinya saya harus membahagiakan ayah. dan apa sih kebahagiaan terakhir yang diinginkan ayah dari putri kecilnya? jawabannya adalah pasangan yang ideal bagi putri kecilnya. saya yakin ayah ingin ada yang menjaga saya. ayah ingin ada yang menggantikannya suatu saat di sisi saya, laki-laki yang baik. dan saya kan memenuhi semua itu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: